Proses Dan Konsep Menciptakan Lagu

Studi kasus dan proses menciptakan sebuah lagu

Ketika membuat melodi untuk lagu dengan syair yang sudah ada ini (dari antifon penutup madah harian malam peringatan wajib St. Marta), perkenankanlah saya menceritakan proses pembuatan melodi sehingga menjadi lagu ini.

1. Ketertarikan terhadap sesuatu itu datangnya tak terduga. Seperti ketika melihat secara sekilas syair dari Antifon Penutup ini, walaupun melodi belum terbayang, tapi kata-kata yang berima untuk setiap penggalan (frasering) membuat saya tertarik secara mendadak.

2. Pinginnya membuat lagu yang sederhana, untuk mewadahi setiap konteks kalimat dalam penggalan, atau frasering dengan pengikatan pada motif yang dikembangkan melodinya. Maka saya memilih untuk mengikat dengan irama, artinya melodi bisa dikembangkan namung mengikuti pergerakan dari motif sebelumnya.

3. Untuk "melukis" melodi itu, saya memilih membuat melodi dengan not balok, karena akan kelihatan pergerakan naik dan turunnya. Nah, yang menjadi buah pemikiran saya adalah bagimanapun saya memberikan melodi sesuai KONTEKS KALIMAT, artinya berpedoman kepada MELODI mengabdi pada SYAIR dalam sebuah konteks.

4. Saya memiliki prinsip bahwa MELODI mengabdi pada SYAIR itu dalam artian konteks kalimat yang bermakna. BUKAN bahwa SETIAP KATA harus dilayani dengan NOT sesuai arti kata itu. TAPI pada konteks kalimat atau konteks penggalan kalimat (baca: frasering).

5. Walaupun demikian, pengartian SETIAP KATA tetap merujuk pada KONTEKS KALIMAT, contohnya untuk pembuatan motif dari penggalan kalimat pertama. Kata : SALAM, saya akhiri kata ini dengan nilai nada yang panjang, karena mengucapkan salam menurut opini saya pribadi ya tidak harus buru-buru dilanjutkan dengan obyek yang diberi ucapan salam itu.

6. YA RATU SURGAWI saya lukis dengan untaian nada yang naik untuk menunjukkan kepada siapa salam itu diberikan. Pertanyaannya, kenapa pada suku kata "WI" melodinya turun? Ini karena saya berpatokan kepada teori melodi, bahwa pergerakan prime, sekon dan terts belum dikatakan sebagai lompatan yang jauh. Lompatan not jauh itu dihitung mulai kwart. Maka gerakan terts dari suku kata "GA" ke "WI", bukan sebuah lompatan, tapi perjalanan melangkah sedikit jauh, maka tidak akan memberikan kesan melodi meluncur.

7. Motif kalimat berikutnya dibangun dari motif pertama dengan diawali dari lompatan septim (minor 7th), lompatan ini selain untuk memberikan kejutan, juga untuk mempertegas kata "SALAM" yang kedua. Maka pergerakan berikutnya dipertahankan pada gerakan melangkah kecil-kecil saja, yaitu prime dan sekon baik naik maupun turun. Selain juga untuk mengabdikan melodi kepada SYAIRNYA, maka mulai kata PUTRA, melodi naik sedikit, karena bukankah PUTRA memang lebih tinggi daripada Bunda? - in my opinion ya...

8. Kenapa melodi berikutnya bergerak turun padahal ada kata ilahi? Selain masih dengan alasan nomor 6 di atas, bahwa tidak terjadi lompatan jauh, juga secara pribadi saya melihatnya bahwa secara keseluruhan konteks penggalan kalimat kedua ini, keilahian PUTRA dari sang Bunda tetap berpihak kepada kita sebagai manusia, maka menuju dari atas ke bawah.

9. Konteks penggalan kalimat ke-3, mempertahankan motif dengan sedikit variasi pada nilai nada, dan permainan lompatan-lompatan nada secara jauh dan kecil selain memberikan point of interest dari pergerakan sebelumnya yang lebih banyak melangkah, juga konteks kata "MU" nada bergerak naik, dan "HIDUP" yang dinamis dengan diawali lompatan turun dan bergerak secara terts naik (gerakan kecil berlawanan arah ini, menurut opini saya ini untuk menunjukkan hidup manusia yang dinamis).

10. Penggalan kalimat ke-4 diawali dengan pergerakan naik, karena memang konteks MEMPEROLEH bla... bla.. bla... itu menunjukkan sebuah pengharapan. Pengharapan diungkapkan kepada yang diatas (maka ada lompatan jauh kwart untuk mengakhiri kata memperoleh), dan dengan rendah hati menerima yang diungkapkan pergerakan melangkah turun apa yang diharapkan itu, yaitu TERANG SUCI.

11. Penggalan kalimat ke-5 dan ke-6 cenderung untuk mengulang motif untuk mengikat lagu, walaupun sudah sejak membuat motif 1 dan 2 juga sudah melirik ke penggalan kalimat 5 dan 6 ini, sehingga melodi dirasa masih melayani arti dari SYAIR tersebut. Karena tanpa ikatan motif, maka lagu akan menjadi terlalu banyak motif dan rangkaian nada sehingga kesederhanaan menjadi hilang.

12. Penggalan kalimat ke-7 adalah perubahan not (walaupun akornya masih sama dengan akor motif ke-3) untuk memberikan tekanan dan warna agar pergerakan lagu tidak membosankan, selain itu melihat kepada syairnya sebagai pujian kepada BUNDA yang MULIA ditempatkan pada puncak lagu secara keseluruhan.

13. Penggalan kalimat ke-8 adalah gerakan anti klimaks sesuai dengan maksud dari syair DOAKANLAH sebagai keinginan kita kepada Bunda, sehingga digambarkan sebagai bentuk bahwa kita meminta, bukan memaksa, meminta dengan segala kerendahan hati. Maka kata KAMI saya lompatkan jauh melodinya (kwart) ke bawah dan membawa kepada semakin anti klimaks bahwa lagu ini akan segera diakhiri.

Nah, ini sepenggal proses saya menciptakan lagu yang secara melodi sangat sederhana, karena lompatan terjauh pada septim, kemudian disusul 3 kali kwart di tengah penggalan kalimat, selain itu hanya lompatan kecil terts dan sekon baik naik maupun turun dan pergerakan prim.

Saya menyadari bahwa pada awal menyanyikan lagu ini, maka tidak akan muncul KARAKTERISTIK yang kuat. Mengapa? Karena motifnya dibangun secara mainstream. Tapi ketika dinyanyikan beberapa kali, akan menjadi lebih mudah dihapalkan dan syair serta melodinya akan nampak bersatu. Nah, karakteristik ini lah yang saya maksudkan bahwa karakteristik lagu dibangun karena pengulangan berkali-kali.

Jika hanya dinyanyikan 1-2 kali saja, percayalah, karakteristik lagu kurang terlihat karena pola mainstream dari motif dan pergerakan melodi yang lebih banyak melangkah dan melompat kecil itu. 

Lagu ini telah direkam oleh Mas Antonius Kristianto Hidayat - diupload di Facebook dan di YouTube. Lagunya seperti ini :


Panjang ya? Hahahaha... padahal hanya untuk membuat lagu yang sederhana saja. Tapi inilah konsep yang saya buat untuk membuat lagu ini.

Salam

Bayu Nerviadi C., C.

꧋ꦥꦿꦺꦴꦱꦺꦱ꧀ꦭꦤ꧀ꦏꦺꦴꦤ꧀ꦱꦺꦥ꧀ꦢꦩꦼꦭ꧀ꦠꦼꦩ꧀ꦧꦁ꧉

Posting Komentar

0 Komentar